Udang hias endemik Danau Towuti, populasinya kini terancam mengalami penurunan dan kepunahan , menyusul maraknya penangkapan secara bebas terhadap spesies yang memiliki aneka ragam warna itu. Karena warna yang indah tersebut, sehingga menarik minat para pedagang ikan hias untuk memperjualbelikan spesies ini secara bebas. Oleh karena itu diperlukan pengelolaan dengan menentukan zonasi (zona inti) agar populasinya tidak mengalami penurunan dan kepunahan.
Selain beraneka warna, udang hias Danau Towuti juga mempunyai ciri tersendiri dengan ukuran kecil berkisar 1,5 cm- 2,5 cm. Badan Konservasi Sumber Daya Alam, menyebutkan saat ini terdapat 12 spesies hidup di Danau Towuti yang dikategorikan habibat langka, salah satunya adalah Udang Hias karena tidak terdapat di tempat lain.
“Dikatakan endemik karena udang hias ini, hanya bisa dijumpai di Danau Towuti atau kompleks Danau Malili saja,” Ungkap Zakaria, kadis Perikanan dan Kelautan Lutim, yang disebut-sebut salah satu kandidat kuat Bupati Kolaka Utara periode mendatang. Upaya pelestarian terhadap spesies endemik ini dilakukan dengan pendekatan kelompok secara turun temurun, makanya pengelolaannya harus dilakukan oleh kelompok nelayan yang bermukim di sekitar pesisir Danau Towuti.
“Mereka (kelompok nelayan, red) akan dibimbing secara teknis untuk melakukan penangkapan sehingga di waktu mendatang akan dilakukan pembatasan areal tangkapan,” ungkapnya lagi. Selain itu untuk menjaga kelestarian udang hias tersebut, dinas perikanan dan kelautan kabupaten Luwu Timur mengimbau agar Danau Towuti harus dikelola dengan perspektif yang berbasis ramah lingkungan.
“Salah satunya adalah alat tangkap yang digunakan tidak berpotensi merusak lingkungan serta mengandung bahan kimia beracun. Olehnya kami akan menyeleksi ketat penggunaan alat tangkap para nelayan,” kuncinya.



Dibutuhkan dana yang besar juga untuk meningkatkan perkembangan daerah